Leadership in Organizational Settings

‘ Yang terpenting, kepemimpinan (leadership) adalah mengenai memiliki mimpi yang mustahil (dreaming the impossible) and membantu para pengikutnya untuk mencapai tujuan yang sama dengan dirinya’ – Nandan Nilekani, Chief executive of Infosys, India.

Kepemimpinan merupakan kemampuan untuk mempengaruhi, memotivasi, dan membantu orang lain untuk dapat berkontribusi menghadapi efektivitas dari suatu organisasi yang diikuti.

Kepemimpinan tidak terbatas pada orang-orang di dalam posisi formal dalam manajemen. Siapapun di dalam organisasi harus-dan akan-menjadi pemimpin dengan cara berbeda dan waktu yang pasti ada nanti. Suatu perusahaan yang efektif harus mendorong semua pegawainya menjadi pemimpin ketika dibutuhkan.

Tujuh (7) kompetensi kepemimpinan menurut McShane dan Vin Glinow :

1.Self-Confidence (percaya diri).

Percaya diri adalah modal awal untuk memimpin orang lain.

2. Intelligence.

Kemampuan diatas rata-rata. Mampu menganalisa masalah dan kesempatan.

3. Knowledge of the business (pengetahuan bisnis)

Familiar dengan lingkungan bisnis. Memiliki naluri membantu dalam membuat suatu keputusan.

4. Emotional Intelligence (kecerdasan emosi).

Dapat merasakan, mengasimilasi, memengerti, dan mengatur emosi dirinya sendiri.

5. Integrity.

Dapat dipercaya dan mampu menerjemahkan kata-kata menjadi perbuatan.

6. Drive.

Motivasi dari dalam diri untuk mengejar impian. Butuh prestasi, dan tantangan untuk selalu belajar.

7. Leadership motivation.

Memiliki kebutuhan tinggi untuk berbagi kekuatan atau motivasi kepada tim untuk mencapai tujuan.

Leader Behaviour Perspective

1. Perilaku berorientasi orang (People-oriented behaviors)

–          Menunjukkan kepercayaan mutual dan saling menghargai.

–          Perhatian terhadap kebutuhan orang lain.

–          Memperlakukan orang lain dengan baik.

2. Perilaku berorientasi tugas (Task-oriented behaviors)

–          Bertugas spesifik

–          Meyakinkan orang lain untuk mengikuti aturan

–          Membuat tujuan ketat untuk prestasi atau pencapaian kapasitas kerja.

Transformational Leadership versus Transactional Leaders

CEO Procter & Gamble, AG Lafley, mempraktekkan kepemimpinan transformasional tanpa menggunakan ‘karisma’. Dengan membentuk dan berkomunikasi dengan visi yang jelas dan memodelkan visi tersebut, seseorang dapat mengubah perusahaan dengan baik pada beberapa tahun terakhir.

  • Pemimpin Transformasional

Memimpin dengan mengubah organisasi pada lingkungan yang tepat. Pemimpin transformasional merupakan agen perubahan.

  • Pemimpin Transaksional

Mengatur dengan pekerjaan yang saling berkaitan dengan bonus atau hasil. Meyakinkan pegawainya mendapat sumber-sumber yaang dibutuhkan. Mengaplikasikan kepemimpinan kontingensi.

Apakah kepemimpinan yang karismatik itu penting untuk kepemimpinan transformasional?

Para ahli bilang ‘iya’, tapi beberapa pandangan muncul :

–          Karisma berbeda dengan kepemimpinan transfornasional.

–          Karakter seseorang untuk membantu perubahan atau bahkan hanya membantu pemimpin saja.

–          Pemimpin karismatik memiliki efek samping yaitu akan menimbulkan ketergantungan, bukan suatu kekuatan atau kuasa.

 

Referensi : McShane, Vin Glinow, Organizational Behaviour 4th, McGrow-Hill Companies Inc: 2008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s