Contoh Essay

Ini adalah salah satu tugas tulisan Essay yang pernah saya buat. kurang lebihnya seperti ini🙂

Dampak Ekonomi Pembangunan Infrastruktur MRT di DKI Jakarta

 

 

ARISTA SEFREEYENI

S1 AKUNTANSI REGULER

  

UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA

Dampak Ekonomi Pembangunan Infrastruktur MRT di DKI Jakarta

            Salah satu masalah yang paling marak di bicarakan belakangan ini adalah kemacetan di kawasan ibukota DKI Jakarta. Jumlah kendaraan yang telah melewati batas maksimal dan kurangnya lahan ruas jalan mengakibatkan sulitnya mendapatkan arus transportasi yang efisien. Kemacetan juga mengakibatkan polusi udara yang di sebabkan oleh kendaraan bermotor. Oleh sebab itu, pemerintah harus lebih memperhatikan dan menanggapi masalah ini dengan serius. Mungkin salah satunya adalah dengan memberikan solusi transportasi alternative.

Solusi transportasi alternative yang belakangan ini sudah terdengar di kalangan masyarakat adalah pembangunan infrastruktur MRT di DKI Jakarta.

Menurut website MRT Jakarta. MRT adalah singkatan dari Mass Rapid Transit yang secara harafiah berarti angkutan yang dapat mengangkut penumpang dalam jumlah besar secara cepat. Beberapa bentuk dari MRT antara lain:
• Berdasarkan jenis fisik : BRT (Bus Rapid Transit), Light Rail Transit (LRT) yaitu kereta api rel listrik, yang dioperasikan menggunakan kereta (gerbong) pendek seperti monorel dan Heavy Rail Transit yang memiliki kapasitas besar seperti kereta Jabodetabek yang ada saat ini
• Berdasarkan Area Pelayanan : Metro yaitu heavy rail transit dalam kota dan Commuter Rail yang merupakan jenis MRT untuk mengangkut penumpang dari daerah pinggir kota ke dalam kota dan mengantarkannya kembali ke daerah penyangga (sub-urban).
Jenis yang akan dibangun oleh PT MRT Jakarta adalah MRT berbasis rel jenis Heavy Rail Transit.

Namun, apakah ini menguntungkan atau malah merugikan? Di setiap keputusan atau kebijakan yang pemerintah ambil pasti memiliki dampak positif ataupun dampak negative.

Dampak positif dari pembangunan MRT ini adalah mengurangi kemacetan yang pasti menjadi tujuan utama pembangunan ini di rencana kan. Lalu, pembangunan MRT ini  juga akan menciptakan lapangan pekerjaan, karna di perkirakan butuh lebih dari 40.000 sumber daya manusia untuk membangun infrastruktur tersebut. Dan di tegaskan melalui data pelaksaan program Revisi Sistem MRT Jakarta 2005, dampak lingkungan pembentukan MRT akan mengurangi hingga 0,7% dari emisi CO2 total pertahun sekitar 93.663 ton.

Namun, bagaimana dengan dampak negatifnya dan apakah menguntungkan? Tentu membangun sebuah infrastuktur Negara yang terbilang cukup besar akan membutuhkan banyak biaya. Jika di tengok kebelakang, apakah ekonomi Negara ini sudah cukup stabil? Apakah ekonomi di Negara ini sudah bersih dari hutang-hutang luar negeri? Tentu jawabannya, belum. Walaupun maksud pemerintah ingin membangun Negara ini agar lebih baik, tapi ada baiknya pemerintah juga memikirnya kelanjutan nasib Negara ini 5 sampai 10 tahun ke depan.

Menurut ucuy.blogspot.com, Dalam proyeksi awal, dengan perhitungan konservatif, aliran kas keluar APBD diproyeksikan Rp 651 miliar pada tahun ke-1 s.d. 7 masa proyek, Rp 85 miliar per tahun pada tahun ke-8 s.d. 10, Rp 97 miliar per tahun pada tahun ke-11 s.d. 17, dan Rp 12 miliar per tahun pada tahun ke-18 s.d. 40. APBD juga akan menanggung subsidi operasional, yang dalam base scenario diproyeksikan Rp 85 miliar per tahun selama 2015-2025 atau Rp 850 miliar untuk 10 tahun.

Tentu perkiraan dana di atas bukan termasuk dana yang kecil dan sedikit. MRT bukan satu-satunya cara untuk menanggulangi kemacetan. Sebenarnya banyak solusi lain yang lebih ‘menghemat’ istilahnya.

Kita bisa lihat, sarana transportasi sekarang qualitasnya kurang bagus, banyak yang rusak ataupun sudah tidak layak pakai. Dan dengan prinsip ekonomi yang mengatakan, “modal sekecil-kecilnya dan untung sebesar-besarnya” mungkin pemerintah bisa memulai pembenahan dari yang paling kecil. Misalnya, dengan pembetulan infastruktur sarana transportasi yang sudah ada. Solusi ini mungkin akan lebih hemat dari pada pemerintah membuat sarana baru yang biayanya jauh lebih mahal dan memerlukan proses yang lama.

Dengan qualitas transportasi yang sudah ada menjadi lebih baik, maka tidak menutup kemungkinan bahwa masyarakat-masyarakat akan lebih memilih menggunakan sarana transportasi umum ketimbang kendaraan pribadi.

Jika pemerintah tetap memaksakan pembangunan MRT, apakah Negara ini sudah siap terseok-seok dalam masalah ekonomi? Kesimpulannya, Jakarta belum butuh MRT, kita masih bisa membenahi sarana yang sudah ada dan menjaga sarana infrastruktur tersebut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s